See other templatesSee other templates

Tips Browsing: Jika anda ingin mengganti Warna dasar tampilan website ini. "Klik" icon GERIGI di sebelah Kanan Halaman-> pilih warna dan tampilan yang anda inginkan

“Upaya Meningkatkan Kemampuan Membentuk Benda  Melalui Penggunaan Media Playdough  pada anak kelompok A RA Perwanida  Blitar”

 

Oleh : Adrikah, S.Psi

 

 

A. Tujuan Penelitian

1. Mendeskripsikan penggunaan media playdough yang dapat meningkatkan kemampuan membentuk benda kelompok A di RA PERWANIDA kota Blitar.

2. Mendeskripsikan peningkatan kemampuan membentuk benda dengan menggunakan media playdough di RA PERWANIDA kota Blitar.

 

B. Pengertian Playdough

            Media playdough merupakan salah satu alat permainan edukatif karena dapat mendorong anak imajinasi anak (Dwirosanty, 2008). Definisi tentang playdough sebagaimana yang dikemukan oleh Einon (Novitasari 2009) yaitu: playdough adalah suatu bahan yang lembut, dapat membuat anak-anak terdiam cukup lama ketika mengerjakannya, warnanyapun bermacam-macam (seperti warna pelangi), tetapi bahannya mudah rapuh dan kotorannya dapat menempel pada karpet.

           

C. Ciri- Ciri Playdough

            Playdough termasuk ke dalam alat edukatif untuk anak usia dini karena media ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

a. Ditujukan untuk anak usia dini.

b. Berfungsi untuk mengembangkan aspek-aspek perkembangan anak usia dini.

c. Dapat digunakan dengan berbaga cara, bentuk, dan untuk bermacam tujuan.

d. Aman dan tidak berbahaya bagi anak.

e. Dirancang untuk mendorong aktifitas dan kreatifitas.

f. Bersifat konstruktif atau sesuatu yang dihasilkan.

g. Mengandung nilai pendidikan.

D. Manfaat Playdough Bagi Anak Usia Dini

Manfaat playdough bagi anak usia dini adalah:

Membantu untuk memperkuat jari, tangan dan pergelangan tangan.

1.Membantu untuk mengembangkan imajinasi anak.

2.Membantu anak untuk melepaskan perasaan tegang atau marah.

3.Merupakan salah satu permainan terbaik.

4.Playdough dapat dijadikan bentuk apa saja, misalnya makanan, hewan, dan bentuk lainnya.

5.Meningkatkan rasa percaya diri.

6.Membantu anak mengembangkan ketrampilan sosial saat ia bermain bersama dengan anak-anak lain.

7.Memberikan kesempatan bagi anak untuk latihan bekerjasama dan berbagi.

E. Cara Membuat Playdough

            Bahan dan alat yang dibutuhkan dalam membuat plydough adalah sebagai berikut :

            Bahan :

a.       Tepung terigu

b.      Tepung maizena

c.       Garam secukupnya

d.      Air secukupnya

e.       Minyak sayur

f.       Pewarna makanan

Cara membuat playdough adalah ;

1.      Masukkan tepung terigu, maizena dan garam dalam wadah. Beri air sedikit demi sedikit, uleni sampai adonan lembut seperti karet.

2.      Beri minyak, ulaeni lagi sampai benar-benar lembut.

3.      Bagi adonan menjadi beberapa bagian. Masing-masing bagian beri 1-2 tetes pewarna, uleni sampai tercampur rat.

4.      Simpan di tempat yang sejuk. Playdough siap dipergunakan

F. KESIMPULAN

1.  Media playdough dapat meningkatkan kemampuan motorik halus anak

2. Setiap  guru sebelum mengajar harus sudah siapkan materi

G. GAMBAR

 

STRATEGI IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER

DALAM PENGEMBANGAN KEMANDIRIAN SISWA

MELALUI “PROSIRADA”  (PROGRAM EKSTENSI RA “PERWANIDA”)

DI RAUDLATUL ATHFAL “PERWANIDA” KOTA BLITAR

 

Oleh : Adrikah, S.Psi

 

A.    Tujuan Penulisan

Sesuai dengan fokus pembahasan dan rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan ini adalah menguraikan implementasi pengembangan kemandirian siswa melalui kegiatan PROSIRADA di RA”Perwanida” Kota Blitar.

 

B.     PROGRAM EKSTENSI RA “PERWANIDA” BLITAR ( PROSIRADA)

1.   VISI

2.   MISI

3.   PETA PROGRAM

4.   STRUKTUR PROGRAM

5.   STRUKTUR ORGANISASI

6.   PEMBAGIAN JOB DESKRIPTIF

7.   JADWAL

8.   LAMPIRAN

C.     FOTO FOTO.

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGENAL BILANGANMELALUI MEDIA KARTU ANGKA DAN GAMBAR

PADA ANAK KELOMPOK A MADINAH

DI RA ‘PERWANIDA” BLITAR

 

Oleh : Adrikah, S.Psi

 

 

  1. Tujuan Penelitian

Melihat dari rumusan masalah di atas, diharapkan dengan  penelitian Tindakan Kelas ini kita akan mengetahui keefektifan dan manfaat media  Kartu Angka dan Gambar, untuk pembelajaran mengenal bilangan, pada anak Kelompok A Madinah RA Perwanida Blitar.

  1. Manfaat Penelitian

Dari hasil penelitian ini, diharapkan dapat memberikan manfaat:

  1. Bagi Anak
    1. Meningkatkan motivasi dan semangat dalam belajar
    2. Memberikan suasana pembelajaran yang menyenangkan sesuai dengan usia anak-anak
    3. Anak dapat mengenal lambang bilangan dengan bantuan media kartu angka dan gambar
  2. Bagi Peneliti
  1. Peneliti akan lebih kreatif dalam memberikan pembelajaran melalui berbagai media yang bervariasi
  2. Mengembangkan kemampuan dan kompetensi di bidang pengajaran
    1. Bagi Lembaga

Dengan semakin meningkatnya kemampuan dan kompetensi guru, tentunya akan dapat memberikan kontribusi bagi lembaga kedepannya, dalam upaya mewujudkan sebuah lembaga pendidikan yang kreatif, inovatif dan kompetitif yang dapat memenuhi tuntutan masyarakat.

 

  1. Kesimpulan

                Dari hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan selama dua siklus, dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisa yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

“Penggunaan media belajar, dalam hal ini kartu angka dan gambar, pada kenyataannya dapat mendukung kegiatan belajar mengajar, serta meningkatkan kemampuan anak, utamanya kemampuan dalam mengenal bilangan, pada anak Kelompok A RA Perwanida Blitar.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Basuki Wibowo,  2004. Pedoman Penelitian Tindakan Kelas. Depdiknas Dirjen Dikdasmen Direktorat Tenaga Kependidikan. Jakarta.

Depdikbud,  1994. Garis-garis Besar Program Kegiatan Belajar – Taman Kanak-kanak (BGPKB-TK), Jakarta.

Depdikbud, 1997.  Metodik Khusus Pengembangan Kognitif. Jakarta.

Poerwodarminto, 1990. Psikologi Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rusda Karya.

Sulistyo H. Gunadi, 2000. Siklus tentang Metode Penelitian. Universitas negeri Malang.

 

 

PERMAINAN TRADISIONAL SEBAGAI MEDIA SIMULASI ASPEK PERKEMBANGAN ANAK USIA DINI

 

Oleh : Yusuf Dwi Cahyono, S.Pd

 

Kegiatan fisik yang sering dilakukan oleh anak prasekolah seperti: berguling, melompar, meluncur, berputar, berjalan dan berlari dipercaya dapat menjadi sarana dalam merangsang sistem kepekaan dan sensori bagi anak usia dini. Kegiatan tersebut melibatkan emosi dan fisik setiap individu. Setiap kegiatan yang dilakukan mengandung nilai yang penting bagi aspek perkembangan dasar  anak. Nilai-nilaiyang terkandung dalam setiap permainan dapat menjadi sarana dalam pemecahan masalah yang dihadapi.

 

KATA KUNCI: Permainan Tradisional, Media Simulasi, dan  Aspek Perkembangan

Pendahuluan

Permainan tradisional merupakan kekayaan khasanah budaya lokal, yang seharusnya dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran pendidikan jasmani. Jika dihitung mungkin terdapat lebih dari ribuan jenis permainan yang berkembang di negara kita, yang merupakan hasil pemikiran, kreativitas, prakarsa coba-coba, termasuk hasil olah budi para pendahulu kita, yang jika didokumentasikan akan sangat mencengangkan kita. Pertanyaannya, kemanakah semua jenis permainan tradisional tersebut? Ketika anak anak kita tengah gencar-gencarnya diserbu oleh permainan modern melalui tayangan televisi, justru permainan tradisional dalam pelajaran pendidikan jasmani di sekolah dewasa ini sudah tidak dikenal dan tidak diperkenalkan lagi oleh para guru penjas.

Permaian tradisional tidak hanya dimainkan oleh anak-anak di luar kelas sebagai media hiburan. Permaianan tradisional pun dapat digunakan sebagai media pembelajaran di dalam kelas khususnya dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di Australia sebagai bahasa kedua.  Peran permaian tradisional dalam pembelajaran Bahasa Indonesia adalah sebagai sarana hiburan para siswa di dalam kelas dan juga sebagai alat pengenalan budaya Indonesia kepada para siswa. Menciptakan sebuah kelas yang menarik dan memberikan banyak pengetahuan di dalamnya (terintegrasi) adalah sebuah kegiatan yang seharusnya menjadi bagian pokok dalam sebuah kegiatan pembelajaran.  Permaian tradisional tidak hanya dimainkan oleh anak-anak di luar kelas sebagai media hiburan. Permaianan tradisional pun dapat digunakan sebagai media pembelajaran di dalam kelas khususnya dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di Australia sebagai bahasa kedua.

 

1.    Permainan Tradisional

Permainan tradisional adalah bentuk kegiatan permainan dan atau olahraga yang berkembang dari suatu kebiasaan masyarakat tertentu. Pada perkembangan selanjutnya permainan tradisional sering dijadikan sebagai jenis permainan yang memiliki ciri kedaerahan asli serta disesuaikan dengan tradisi budaya setempat. Kegiatannya dilakukan baik secara rutin maupun sekali-kali dengan maksud untuk mencari hiburan dan mengisi waktu luang setelah terlepas dari aktivitas rutin seperti bekerja mencari nafkah, sekolah, dsb. Dalam pelaksanaannya permainan tradisional dapat memasukkan unsur-unsur permainan rakyat dan permainan anak ke dalamnya. Bahkan mungkin juga dengan memasukkan kegiatan yang mengandung unsur seni seperti yang lajim disebut sebagai seni tradisional.

Permainan tradisional di sini bisa identik dengan istilah lain yang juga lajim digunakan, yaitu olahraga tradisional. Agar suatu kegiatan dapat dikategorikan sebagai permainan tradisional tentunya harus teridentifikasikan unsur tradisinya yang memiliki kaitan erat dengan kebiasaan atau adat suatu kelompok masyarakat tertentu. Di samping itu, kegiatan itupun harus kuat mengandung unsur fisik yang nyata-nyata melibatkan kelompok otot besar dan juga mengandung unsur bermain yang melandasi maksud dan tujuan dari kegiatan itu. Maksudnya, suatu kegiatan dikatakan permainan tradisional jika kegiatan itu masih diakui memiliki ciri tradisi tertentu, melibatkan otot-otot besar dan hadirnya strategi serta dasarnya tidak sungguh-sungguh terlihat seperti apa yang ditampilkannya.

Olahraga tradisional pada dasarnya dapat digolongkan ke dalam beberapa jenis, yang secara umum menggambarkan karakteristik dari cara pelaksanaannya. Pada pengelompokkan pertama, kita dapat membedakan olahraga tradisional dari pekat tidaknya unsur tradisi yang melekat pada olahraga tersebut, sehingga dapat dibedakan antara yang sangat pekat unsur tradisi dan unsur seninya seperti pencak silat dan benjang. Jadi perbedaan esensi permainan tradisional dari aktivitas tradisi lainnya dapat dilihat dari banyak tidaknya gerak yang dilibatkan. Jenis permainan tradisional yang banyak mengandung gerak fisik seperti permainan gobak sodor, permainan hadang, permainan bebentengan, dsb.

Ada juga jenis olahraga tradisional yang kandungan gerak fisiknya sangat minim tetapi kaya akan nilai-nilai seni seperti nyanyian dan do’a-do’a sakral. Adapun yang akan disajikan dalam modul ini tentu dari jenis permainan yang pertama, yang kandungan

Unsure aktivitas fisiknya sangat erat.  

 

2.    Media Simulasi

 

Simulasi berasal dari kata “Simulate” artinya pura-pura atau berbuat seolah-olah. Simulation juga berarti tiruan atau perbuatan yang pura-pura saja. Simulasi sebagai metode penyajian adalah suatu usaha untuk memperoleh pemahaman akan hakikat suatu prinsip atau keterampilan tertentu melalui proses kegiatan atau latihan dalam situasi tiruan (tidak sesungguhnya). Dengan simulasi memungkinkan siswa mampu menghadapi kenyataan yang sesungguhnya atau mempunyai kecakapan bersikap dan bertindak sesuai dengan situasi sebenarnya. Simulasi (dalam Wikipedia) adalah suatu proses peniruan dari sesuatu yang nyata beserta keadaan sekelilingnya (state of affairs). Aksi melakukan simulasi ini secara umum menggambarkan sifat-sifat karakteristik kunci dari kelakuan sistem fisik atau sistem yang abstrak tertentu.

Alasan penggunaan

Alasan pemilihan metode stmulasi, untuk memudahkan siswa dan guru “mengalami” pola atau model kehidupan dan nilai praktis dari suatu pokok masalah tanpa langsung kedalam suasa alamiah (yang sebenarnya).

Tujuan

Metode simulasi digunakan untuk :

1a.  Melatih keterampilan tertentu, baik yang bersifat keahlian (profesional) maupun keterampilan dalam hidup sehari-hari;

1b.  Memperoleh pemahaman tentang suatu pengertian (konsep) atau prinsip; dan

1c.   Latihan memecahkan masalah

Manfaat

Metode simulasi dapat untuk :

1a.     Meningkatkan aktivitas belajar siswa dengan melibatkan diri dalam mempelajari situasi yang hampir serupa dengan kejadian yang sebenarnya;

1b.     Memberikan motivasi untuk bekerja sama dalam kelompok;

1c.      Melatih siswa untuk bekerja sama dalam kelompok;

1d.     Menimbulkan dan memupuk daya imaginasi siswa; dan

1e.     Melatih siswa untuk memahami dan menghargai pendapat, peran orang lain.

Agar penggunaan metode simulasi mencapai tujuan dan manfaat yang diinginkan, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :

1a.  Tiap siswa atau kelompok siswa mendapat kesempatan yang sama untuk melakukan simulasi;

1b.  Tiap siswa terlibat langsung dalam peranannya masing-masing;

1c.  Simulasi dimaksudkan untuk latihan keterampilan agar dapat menghadapi kenyataan dengan baik oleh sebab itu, disiapkan petunjuk simulasi dapat secara terperinci atau secara garis besar; dan

1d. Dalam simulasi diusahakan dapat digambarkan secara lengkap tentang situasi, proses yang diperkirakan terjadi dalam kenyataan sesungguhnya.

Prinsip Penggunaan Model Simulasi Dalam Belajar

Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan guru manakala menggunakan simulasi untuk pembelajaran, diantaranya :

1a.    Simulasi dilakukan oleh kelompok siswa.

1b.   Tiap kelompok mendapat kesempatan melaksanakan simulasi yang sama atau dapat juga berbeda.

1c.   Semua siswa harus terlibat langsung menurut peranan masing- masing. Penentuan topik disesuaikan dengan tingkat kemampuan kelas, dibicarakan oleh siswa dan guru.

1d.    Dalam simulasi seyogyanya dapat dicapai ketiga domain psikis.

1e.   Hendaknya yang diusahakan terintegrasinya beberapa ilmu. Petunjuk simulasi hendaknya dibuat secara jelas dan mudah dipahami anak terutama bagi pemegang peran.

1f.   Simulasi adalah latihan keterampilan motorik maupun sosial yang dapat memberikan pengalaman belajar bagi siswa dalam menghadapi keadaan yang sebenarnya.

1g.  Pelaksanaan simulasi perlu menggambarkan situasi yang lengkap, proses yang rinci dan urut yang sesuai dengan situasi yang sesungguhnya.

Bentuk-Bentuk Simulasi

Secara rinci, bentuk-bentuk simulasi , diantaranya :

1. Peer teaching

Peer teaching dapat dikategorikan sebagai simulasi mengingat peer teaching adalah latihan mengajar yang dilakukan seorang mahasiswa dimana dia bertindak seolah-olah sebagai guru dan teman sekelasnya seolah-olah sebagai murid suatu sekolah tertentu. Peer teaching ini banyak dipraktekan siswa atau mahasiswa di sekolah calon guru, untuk meningkatkan keterampilan mengajarnya, sebelum mengajar siswa yang sebenarnya pada saat praktek.

2. Sosiodrama

Sosiodrama adalah salah satu bentuk simulasi, yakni suatu drama yang bertujuan untuk menemukan alternatif pemecahan masalah-masalah sosial yang timbul dalam hubungan antar anggota sosial. Masalah-masalah sosial yang cocok untuk sosiodrama misalnya, masalah konflik antara anggota keluarga, konflik antara buru dengan majikan, konflik antara masyarakat dengan pimpinannya, dan sejenisnya.

Bagi siswa, dengan metode simulasi utamanya melalui sosiodrama dapat belajar menemukan alternatif pemecahan masalah sosial yang berkembang dimasyarakat. Dengan disosiodramakan, siswa dapat mengimajinasikan masalah sehingga terdorong untuk menemukan alternatif pemecahannya.

Langkah-langkah

Langkah-langkah penggunaan metode simulasi :

1.     Persiapan

  1. Menentukan topik dan tujuan, dimana menentukan topik dan tujuan simulasi, akan lebih baik bila dilakukan bersama siswa

2.     Pelaksanaan simulasi

  1. Merumuskan tujuan pembelajaran khusus (TPK)
  2. Merumuskan petunjuk simulasi, dimana guru menguraikan secara garis besar situasi yang akan disimulasikan, menjelaskan peranan-peranan yang akan disimulasikan, dan proses simulasi yang didalamnya terdapat pemilihan para pelaku atau pemeran, setelah itu barulah pemberian kesempatan bertanya

Ada juga yang menyebutkan langkah-langkah penggunaan metode simulasi menggunakan empat fase, diantaranya :

1)    Fase orientasi, berisi penjelasan guru tentang topik dan memberikan gambaran tentang simulasi.

2)    Fase latihan, Guru menjelaskan skenario atau jalannya cerita, aturan main, pemegang peran, prosedur keputusan yang harus diambil, dan tujuan, membagi peran, dan memberikan kesempatan anak untuk berkordinasi dan berlatih sesuai dengan peran masing-masing.

3)    Fase pelaksanaan simulasi. Siswa pemegang peran melaksanakan simulasi sesuai dengan jalan cerita yang sudah ditentukan. Selama simulasi berlangsung, guru berperan sebagai wasit dan pelatih. Secara periodik guru dapat menghentikan permainan siswa dan memberikan koreksi atau balikan, mengevaluasi penampilan pemegang peran dan mengklarifikasi kekeliruan dalam memainkan peran.

4)    Fase debriefing, berisi guru mengkonsentrasikan perhatian anak pada :

  1. Persepsi dan reaksi anak terhadap peristiwa simulasi
  2. Menganalisis proses simulasi
  3. Membandingkan simulasi dengan realitas yang sebenarnya
  4. Menghubungkan aktivitas simulasi dengan bahan belajar
  5. Simulasi lanjutan

Peranan Guru Dalam Simulasi

Peranan guru dalam stimulasi sangat penting mengingat tugas guru adalah membangkitkan kesadaran anak tentang konsep dan prinsip yang disimulasikan. Di samping itu, guru dalam pelaksanaan simulasi mempunyai fungsi manajerial. Joyce dan Weil, mengidentifikasi empat peranan guru dalam model pembelajaran melalui simulasi, yakni : explaining, refereeing, coaching, dan discussing.

Explaining. Siswa mampu melakukan peran-peran dalam simulasi, apabila memiliki pemahaman yang cukup mengenai peran. Demikian pula jalan cerita harus dipahami betul oleh pelaku atau pemegang peran. Pemahaman pelaku terhadap peran yang dimainkan maupun jalannya cerita tidak terlepas dari pentingnya peranan guru. Sebelum simulasi dimulai, guru perlu memberikan gambaran tentang jalannya cerita. Selain itu, gambaran tokoh-tokoh cerita beserta karakterisasinya. Gambaran yang disampaikan guru tersebut dimaksudkan untuk memancing daya imajinasi anak, khususnya bagi pemegang peran agar mampu menghayati peran masing-masing.

Refereeing. Simulasi digunakan untuk menyediakan pengalaman belajar yang baik. Guru perlu mengontrol partisipasi siswa dalam bersimulasi agar simulasi mampu memberikan pengalaman belajar yang baik tersebut. Sebelum simulasi dilaksanakan, guru perlu menugaskan siswa memilih tim pemegang peran yang sesuai dengan kemampuan anak untuk memegang peran-peran tersebut. Guru perlu menghindari tugas yang sulit bagi anak dalam pemeranan.

Coaching. Guru bertindak sebagai pelatih saat diperlukan, memberikan nasehat agar anak mampu bersimulasi secara betul. Sebagai pelatih, guru akan mendukung dan menasehati tetapi tidak menggurui.

Discussing. Selama simulasi berlangsung, guru bertindak sebagai pemberi penjelasan, wasit, dan pelatih. Sesudah simulasi berakhir, guru perlu membuka diskusi berkaitan dengan signifikansi simulasi dengan kenyataan yang sebenarnya dimasyarakat atau dilapangan. Guru perlu menanyakan kepada siswa utamanya pemain tentang kesulitan dan pemahaman anak dalam bersimulasi, hubungan simulasi dengan matapelajaran yang sedang diikuti.

Filosofi (Hakikat) Belajar Melalui Media Simulasi

Filosofi belajar melalui media simulasi ini bertujuan untuk dan demi meningkatkan motivasi (keinginan) anak (peserta didik) untuk belajar. Dengan belajar melalui media simulasi, anak lebih memahami dan mengerti apa yang dipelajarinya, karena anak ikut langsung dalam proses pembelajarannya, dan itu akan membuat anak menyukai pembelajaran yang dilakukannnya tersebut, dengan kata lain pembelajaran anak (peserta didik) itu bermakna bagi dirinya. Hal tersebut dikarenakan bukan hanya ranah kognitif saja yang dikuasai oleh anak (peseta didik), namun ranah afektif dan psikomotorik juga dapat dikuasai oleh anak (peserta didik). Oleh sebab itu, belajar melalui media simulasi ini amat sesuai dengan kebutuhan belajar anak (peserta didik).

Simulasi menjadi penting seiring dengan perubahan pandangan pendidikan, dari proses pengalihan isi pengetahuan kearah proses pengaplikasian teori ke dalam realita pengalaman kehidupan. Lebih lanjut, pengenalan teknik simulasi lebih merupakan kegiatan untuk membantu siswa (peserta didik) dalam mengembangkan keterampilan menemukan dan memecahan masalah. Sehingga pada giliranya melalui simulasi, dapat meningkatkan efektivitas keterampilan siswa dalam menemukan dan memecahkan masalah untuk saat yang akan datang. Teknik simulasi dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa, akan menjadi bagian dari suasana pendidikan.

3.    Aspek Perkembangan

Perkembangan Anak. inilah yang menarik darianak karena anak berkembang tidak secara serentak,  dalam artian anak berkembang secara bertahap sesuai dengan usianya, anak memang unik, karena segala tindakan atau apa yang dilakukan selalu menjadi perhatian semua orangadapun tahap-tahap perkembangan anak sesuai  dengan usianya sebagai berikut:

A.   Perkembangan Motorik

Perkembangan motorik merupakan perkembangan unsur kematangan dan pengandalian gerak tubuh. Ada hubungan yang saling mempengaruhi antara kebugaran tubuh,keterampilan motorik,dan kontrol motorik. 
Beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan motorik anak prasekolah adalah keturunan, makanan bergizi, masa pra lahir,pola asuh atau peran ibu, kesehatan, perbedaan jenis kelamin, rangsangan dari lingkungan, dan pendidikan jasmani.

B. Perkembangan Emosi

Emosi merupakan suatu keadaan atau perasaan yang bergejolak pada diriseseorang yang disadari dan diungkapkan melalui wajah atau tindakan, yang berfungsi sebagai inner adjustment (penyesuaian dari dalam) terhadap lingkungan untuk mencapai kesejahteraan dan keselamatan.

C. Perkembangan Sosial

Perilaku sosial merupakan aktivitas dalam berhubungan dengan orang lain, baik dengan teman sebaya, orang tua maupun saudara-saudaranya. Sejak kecil anak telah belajar cara berperilaku sosial sesuai dengan harapan orang-orang yang paling dekat dengannya, yaitu dengan ibu, ayah, saudara, dan anggota keluarga yang lain.

Apa yang telah dipelajari anak dari lingkungan keluarga turut mempengaruhi pembentukan perilaku sosialnya.  Ada empat factor yang berpengaruh pada kemampuan anak bersosialisasi, yaitu:

1.     Adanya kesempatan untuk bergaul dengan orang-orang di sekitarnya dari berbagai usia

2.     Adanya minat dan motivasi untuk bergaul

3.     Adanya bimbingan dan pengajaran dari biasanya menjadi “model+ bagi anak

4.     Adanya kemampuan berkomunikasi yang baik  yang dimiliki anak

D. Perkembangan Bahasa

Bahasa adalah bentuk aturan atau sIstem lambang yang digunakan anak dalam berkomunikasi dan beradaptasi dengan lingkungannya yang dilakukan untuk bertukar gagasan, pikiran dan emosi. Bahasa bisa diekspresikan melalui bicara mengacu pada simbol verbal.  Selain itu bahasa dapat juga diekspresikan melalui tulisan, tanda gestural dan musik. Bahasa juga dapat mencakup aspek komunikasi nonverbal seperti gestikulasi, gestural atau pantomim. Gestikulasi adalah ekspresi gerakan tangan dan lengan untuk menekankan makna wicara. Pantomim adalah sebuah cara komunikasi yang mengubah komunikasi verbal dengan aksi yang mencakup beberapa gestural (ekspresi gerakan yang menggunakan setiap bagian tubuh) dengan makna yang berbeda beda.

E. Perkembangan Kognitif

Di dalam kehidupan, anak dihadapkan kepada persoalan yang menuntut adanya  pemecahan. Menyelesaikan suatu persoalan merupakan langkah yang lebih kompleks pada diri anak. Sebelum anak mampu menyelesaikan persoalan, anakperlu memiliki

Kemampuan untuk mencari cara penyelesaiannya. .Faktor kognitif mempunyai peranan penting bagi keberhasilan anak dalam belajar, karena sebahagian besar aktivitas dalam belajar selalu berhubungan dengan masalah mengingat dan berfikir.

F. Kesimpulan

Permainan tradisional adalah bentuk kegiatan permainan dan atau olahraga yang berkembang dari suatu kebiasaan masyarakat tertentu. Dalam pelaksanaannya permainan tradisional dapat memasukkan unsur-unsur permainan rakyat dan permainan anak ke dalamnya. Jenis permainan tradisional sendiri banyak sekali corak ragamnya, masing-masing mempunyai bentuk, nama, tujuan dan latar belakang yang sesuai dengan asal dari permainan itu sendiri

Permainan tradisional di sini bisa identik dengan istilah lain yang juga lajim digunakan, yaitu olahraga tradisional. Agar suatu kegiatan dapat dikategorikan sebagai permainan tradisional tentunya harus teridentifikasikan unsur tradisinya yang memiliki kaitan erat dengan kebiasaan atau adat suatu kelompok masyarakat tertentu. Di samping itu, kegiatan itupun harus kuat mengandung unsur fisik yang nyata-nyata melibatkan kelompok otot besar dan juga mengandung unsur bermain yang melandasi maksud dan tujuan dari kegiatan itu. Maksudnya, suatu kegiatan dikatakan permainan tradisional jika kegiatan itu masih diakui memiliki ciri tradisi tertentu, melibatkan otot-otot besar dan hadirnya strategi serta dasarnya tidak sungguh-sungguh terlihat seperti apa yang ditampilkannya.

Simulasi sebagai metode penyajian adalah suatu usaha untuk memperoleh pemahaman akan hakikat suatu prinsip atau keterampilan tertentu melalui proses kegiatan atau latihan dalam situasi tiruan (tidak sesungguhnya).  stimulasi memungkinkan siswa mampu menghadapi kenyataan yang sesungguhnya atau mempunyai kecakapan bersikap dan bertindak sesuai dengan situasi sebenarnya. Stimulasi (dalam Wikipedia) adalah suatu proses peniruan dari sesuatu yang nyata beserta keadaan sekelilingnya (state of affairs). Aksi melakukan simulasi ini secara umum menggambarkan sifat-sifat karakteristik kunci dari kelakuan sistem fisik atau sistem yang abstrak tertentu.

Perkembangan Anak. inilah yang menarik dari anak karena anak berkembang tidak secara serentak,  dalam artian anak berkembang secara bertahap sesuai dengan usianya, anak memang unik, karena segala tindakan atau apa yang dilakukan selalu menjadi perhatian semua orang.  adapun tahap-tahap perkembangan anak sesuai  dengan usianya sebagai berikut:

1.  Perkembangan motorik merupakan perkembangan unsur kematangan dan pengandalian gerak tubuh. Beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan motorik anak prasekolah adalah keturunan, makanan bergizi, masa pra lahir,pola asuh atau peran ibu, kesehatan, perbedaan jenis kelamin, rangsangan dari lingkungan, dan pendidikan jasmani.

2.  Perkembangan emosi merupakan suatu keadaan atau perasaan yang bergejolak pada diriseseorang yang disadari dan diungkapkan melalui wajah atau tindakan, yang berfungsi sebagai inner adjustment (penyesuaian dari dalam) terhadap lingkungan untuk mencapai kesejahteraan dan keselamatan.

3.  Perkembangan social. merupakan aktivitas dalam berhubungan dengan orang lain, baik dengan teman sebaya, orang tua maupun saudara-saudaranya. Sejak kecil anak telah belajar cara berperilaku sosial sesuai dengan harapan orang-orang yang paling dekat dengannya, yaitu dengan ibu, ayah, saudara, dan anggota keluarga yang lain.

4.  Perkembangan Bahasa

Bahasa adalah bentuk aturan atau sIstem lambang yang digunakan anak dalam berkomunikasi dan beradaptasi dengan lingkungannya yang dilakukan untuk bertukar gagasan, pikiran dan emosi. Bahasa bisa diekspresikan melalui bicara mengacu pada simbol verbal.

5.  Perkembangan Kognitif

Di dalam kehidupan, anak dihadapkan kepada persoalan yang menuntut adanya  pemecahan. Menyelesaikan suatu persoalan merupakan langkah yang lebih kompleks pada diri anak. Faktor kognitif mempunyai peranan penting bagi keberhasilan anak dalam belajar, karena sebahagian besar aktivitas dalam belajar selalu berhubungan dengan masalah mengingat dan berfikir.

DAFTAR PUSTAKA

 Anonym. 2007. Prinsip dan Praktek Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Direktorat PAUD

http://www.sarjanaku.com/2010/11/aspek-aspek-perkembangan-anak.html

http://nurul24.blogspot.com/2012/01/perkembangan-fisik-dan-motorik-anak.html

Pontjopoetro, S. Dkk (2002). Permainan Anak, Tradisional dan Aktivitas Ritmik. (Modul). Jakarta. Pusat Penerbitan UT

Papalia, Diane E, Etc. 2008. Human Development (Psikologi Perkembangan, terjemahan A. K. Anwar). Jakarta: Kencana Prenada Media Grup

Pontjopoetro, S. Dkk (2002). Permainan Anak, Tradisional dan Aktivitas Ritmik. (Modul). Jakarta. Pusat Penerbitan UT.

Sukirman, dkk., 2004, Permainan Tradisional Jawa, Kepel Press, Yogyakarta

Sujiono Bambang Dkk (2010) , metode pengembangan Fisik, Jakarta: Pusat Penerbitan UT

\Nurani Sujiono Yuliani (2009),, Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini, Jakarta :PT. Indeks Jakarta

Agenda RA "Perwanida" Blitar

Kamis, 10 Desember 2015 Study Wisata Kelas B RA "Perwanida" Blitar Ke Jatim Park 1 dan Musium Bagong Batu Malang

Parade Gelar Senja

16 - 17 Januari 2016

Team Drumband Gita Pesona Children RA"Perwanida"Blitar Mengikuti Gelar Parade Senja di Grahadi Surabaya Jawa Timur

Login Member

Ingat Saya

Data Pengunjung

000000000
Hari ini
Kemarin
Minggu ini
Munggu lalu
Bulan ini
31
122
153
1594
4716

3.03%
45.22%
19.24%
1.79%
0.38%
30.35%
Online (15 menit yg lalu):5
5 tamu Online
tidak ada member Login

Anda Browsing dari :54.156.76.187
Go to top